DailyIndonesia.ID, KUDUS – Karya sastra Nusantara tidak hanya menyimpan nilai budaya dan kearifan lokal, tetapi juga memiliki potensi sebagai media pengembangan karakter dan kemampuan komunikasi generasi muda. Potensi tersebut menjadi dasar pengembangan Model Bibliocounseling Berbasis Sastra Nusantara (SASTRA) dalam penguatan mindful communication mahasiswa melalui penelitian PNBP Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus tahun 2026.

Hasil penelitian tersebut didiseminasikan pada Selasa (3/11/2026) dengan melibatkan 34 mahasiswa. Kegiatan ini menjadi ruang penyampaian hasil penelitian sekaligus pengenalan model yang dikembangkan melalui pemanfaatan karya sastra Nusantara sebagai media refleksi untuk membangun komunikasi yang lebih sadar, santun, dan empatik.

Penelitian berjudul “Pengembangan Model Bibliocounseling Berbasis Sastra Nusantara dalam Penguatan Mindful Communication Mahasiswa” ini dilatarbelakangi oleh perubahan pola komunikasi di era digital. Kemudahan berinteraksi melalui media sosial belum selalu diikuti dengan kemampuan memahami pesan, mengelola emosi, mendengarkan secara aktif, serta mempertimbangkan dampak perkataan terhadap orang lain.

Dalam kehidupan mahasiswa, kemampuan berkomunikasi tidak cukup hanya diukur dari kecakapan menyampaikan pesan. Kesadaran untuk memahami lawan bicara, menghargai perbedaan pandangan, dan mengendalikan respons juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Melalui penelitian ini, sastra Nusantara dihadirkan sebagai alternatif media pengembangan diri mahasiswa. Berbagai karya sastra yang memuat nilai kesantunan, empati, kebijaksanaan, dan kearifan lokal dimanfaatkan sebagai bahan bacaan reflektif untuk membantu mahasiswa memahami pengalaman diri maupun orang lain.

Hasil pengembangan penelitian menghasilkan Model SASTRA yang terdiri atas enam tahapan, yaitu Siapkan Kesadaran, Apresiasi Sastra, Selami Pengalaman, Tafsirkan Makna, Respons Berkesadaran, dan Aktualisasikan. Keenam tahapan tersebut dirancang secara sistematis untuk mengintegrasikan kegiatan membaca karya sastra, merefleksikan pengalaman, memahami perspektif orang lain, hingga melatih penerapan komunikasi secara sadar dalam kehidupan sehari-hari.

“Model SASTRA dikembangkan melalui enam tahapan reflektif yang mengintegrasikan kegiatan membaca karya sastra Nusantara, memahami pengalaman tokoh, merefleksikan pengalaman diri, hingga mempraktikkan komunikasi secara sadar. Kami berharap model ini dapat menjadi alternatif kegiatan pengembangan diri mahasiswa yang lebih kontekstual dengan nilai-nilai budaya Nusantara,” ungkap peneliti dalam pemaparan hasil penelitian.

Pengembangan model ini menghasilkan dua perangkat pendukung, yakni Buku Panduan Operasional Model SASTRA dan Buku Kerja Praktik Mahasiswa. Buku panduan berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan model, sedangkan buku kerja menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melakukan aktivitas refleksi dan mendokumentasikan proses pengembangan diri.

Penelitian ini melibatkan 60 mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dari tiga perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, yaitu UIN Sunan Kudus, UIN Walisongo Semarang, dan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, pada tahap analisis kebutuhan. Hasil analisis tersebut menjadi landasan dalam merancang komponen, tahapan, serta aktivitas model yang dikembangkan.

Kehadiran Model SASTRA diharapkan dapat memperluas pemanfaatan karya sastra Nusantara dalam dunia pendidikan tinggi. Sastra tidak hanya ditempatkan sebagai objek apresiasi, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran nilai yang dapat dihubungkan dengan persoalan komunikasi dalam kehidupan mahasiswa.

Melalui inovasi ini, pengembangan literasi sastra dan penguatan keterampilan komunikasi diharapkan dapat berjalan beriringan. Nilai-nilai kearifan Nusantara pun memiliki ruang untuk terus dihidupkan dan diterapkan dalam kehidupan generasi muda, khususnya dalam membangun komunikasi yang santun, empatik, dan penuh kesadaran.

 

Bagikan: