DailyIndonesia.id – Proyek Tanggul Laut Pantura Jawa digadang bakal menelan biaya sekitar 80 miliar dollar AS atau setara Rp 1,28 kuadriliun.
Tak main-main, proyek yang dibangun sepanjang lebih dari 500 kilometer membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur disebut dapat memakan waktu pengerjaan hingga 15-20 tahun.
Untuk memastikan proyek yang sudah direncakan sejak 30 tahun lalu ini, Presiden Prabowo Subianto membentuk Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa atau Badan Otorita Pengelola Tanggul Laut Pantura Jawa dengan menunjuk eks Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf sebagai ketuanya.
Namun demikian, Peneliti Kelautan Auriga Nusantara, Parid Ridwanuddin menilai proyek tanggul laut raksasa ini malah akan semakin merusak pulau Jawa.
“Dengan adanya tanggul laut, Pulau Jawa akan semakin diekstraksi, akan semakin rusak,” kata Parid saat dihubungi Kompas.com, Rabu (27/8/2025).
Pembangunan tanggul ini, katanya, akan memaksa pengambilan miliaran kubik pasir dari darat dan laut hingga mengakibatkan kerusakan.
Karenanya, ia menilai proyek ini sebagai keputusan yang buruk.
Parid juga mengungkapkan jika masyarakat Pantura sebenarnya tidak membutuhkan tanggul laut. Terlebih, masalah banjir rob di pantura tidak bisa hanya diselesaikan dengan keberadaan tanggul laut.
“Kalau kita bicara masyarakat pesisir utara Jawa, dari barat ke timur, sebenarnya tidak membutuhkan tanggul laut. Apalagi biayanya, menurut Presiden Prabowo, mencapai hampir Rp 1.300 triliun,” ujarnya.
Parid menilai, dana sebenar itu seharusnya dialihkan untuk bidang pendidikan dan kesehatan. Apalagi gaji guru dan dosen masih banyak yang jauh dari kata layak.
“Di daerah terpencil, kita masih kekurangan sekolah, gaji guru layak, dan akses kesehatan. Itu harusnya diprioritaskan,” jelas dia.





